wisata kesenian

wisata kesenian (4)

Tari Kridhajati

  • Wednesday, 03 May 2017 12:08
  • Written by

Adalah Sebuah tarian khas daerah Jepara yang menggambarkan masyarakat jepara yang adi luhung dalam berkarya seni, yang mana seni ukirnya yang menjadikan kota jepara terkenal samapai mancanegara. Tari Kridhajati ini dapat ditarikan 1 (satu) orang, berkelompok, dan massal.

Gerakan - gerakan tariannya menggambarkan seseorang yang berjalan - jalan ke hutan belantaran mencari kayu jati yang paling baik. Setelah mendapatkan kayu jati yang diharapakan, digambar / dibentangi dengan lukisan ukir - ukiran lalu ditatah, dilihat sudah baik baru ditatah lagi sampai menjadi indah. Sambil bersantai, dipandang dengan rasa senang digambarkan lewat gerakan - gerakan tari yang indah dan dinamis. Ukiran jadi lalu diplitur dengan warna - warna yang memukau lalu dikemas sampai baik.

Wayang Kulit

  • Saturday, 28 January 2017 12:26
  • Written by


Pagelaran Rutin diselenggarakan 5 kali dalam setahun saat sabtu legi pukul 20.00 WIB di halaman Shopping Center Jepara(SCJ).

Dimana setiap kali pementasannya dibawakan oleh 2 dalang, 5 sinden dan sekitar 20 orang pangrawit, yang terkadang diselingi oleh campur sari.

Setelah pementasan, diadakan sarasehan dan ajang ekspresi sesama dalang.

Menurut Bapak Drs. Suliyono, MM selaku Ketua Komda tingkat II Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI).

Tari Tayub

  • Saturday, 28 January 2017 12:26
  • Written by

Tari Tayub atau acara Tayuban. merupakan salah satu kesenian Jawa yang mengandung unsur keindahan dan keserasian gerak. Tarian ini mirip dengan tari Jaipong dari Jawa Barat. Unsur keindahan diiikuti dengan kemampuan penari dalam melakonkan tari yang dibawakan. Tari tayub mirip dengan tari Gambyong yang lebih populer dari Jawa Tengah. Tarian ini biasa digelar pada acara pernikahan, khitan serta acara kebesaran misalnya hari kemerdekaan Republik Indonesia. Perayaan kemenangan dalam pemilihan kepala desa, serta acara bersih desa. Anggota yang ikut dalam kesenian ini terdiri dari sinden, penata gamelan serta penari khususnya wanita. Penari tari tayub bisa dilakukan sendiri atau bersama, biasanya penyelenggara acara (pria). Pelaksanaan acara dilaksanakan pada tengah malam antara jam 09.00-03.00 pagi. Penari tarian tayub lebih dikenal dengan inisiasi ledhek.

Emprak

  • Saturday, 28 January 2017 12:25
  • Written by
Kesenian Emprak yang populer di Jepara sekitar tahun 1980-an, kini sudah mulai hilang, tergantikan pergelaran musik dangdut, campursari, hingga pop, yang semakin merangsek ke desa-desa.
 
Emprak, merupakan kesenian tradisional yang dipopulerkan oleh Kyai Derpo tahun 1927 silam. Kesenian yang berasal dari Pleret (Mejing), Gamping, Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta ini merupakan sarana untuk menyiarkan Islam dengan pembacaan tarikh (sejarah) Nabi. Kata emprak, berasal dari bahasa Arab imro’a yang berarti ajaklah: mengajak orang untuk menuju kebenaran ajaran Islam pada saat itu.
 
Di kabupaten Jepara, kesenian emprak sangat populer sekitar tahun 80-an. Hampir setiap hajatan (khitan maupun pernikahan) kesenian yang biasanya dipentaskan selama 8 jam (21.00-05.00) ini menjadi alternatif tontonan (hiburan) warga. Pada saat itu juga kesenian ini juga sering manggung--keliling desa satu ke desa lain.
 
Jenis kesenian tradisional yang tumbuh dan berakar di masyarakat yang merupakan perpaduan dari music ,gerak (tari) dan peran (lakon) dengan mengangkat sebuah tema berupa cerita tentang kehidupan dengan maksud memberikan pesan moral kepada masyarakat.
  • Alat music (instrument) pengiring berupa terbang (rebana) besar ,terbang kecil, dan kentongan
  • Rias wajah :ala kadarnya yang penting mennunjukkan kesan lucu / kocak
  • Tempat pentas di antai dengan gelaran tikar (lesehan )

Jumlah pemain minimal 5 orang & maksimal tidak terbatas terdiri perempuan dan laki-laki

  • Alat music (instrument) pengiring berupa terbang (rebana) besar ,terbang kecil, dan kentongan ditambah alat musik modern seperti orgen, gitar, dan suling
  • Rias wajah :cenderung bagus tapi tetap mennunjukkan kesan lucu / kocak
  • Tempat pentas di lantai atau dipanggun

Tema diambil dari kejadian di masyarakat, seperti : kawin lari,kawin paksa, perselisihan rumah tangga, dllyang diakhiri dengan pesan-pesan dan hikmah dari cerita yang dipentaskan. Adapun bagi pemain berkostum ala pegunungan dan tidak ketinggalan tetap memakai kupluk (kopyah) bayi. Dalam menyuguhkan suatu cerita juga diselingi dengan lawakan / banyolan, tuntunan-tuntunan, penerangan (tentang pertaniaan, agama, norma, politik, dll )

Pola permainan

  • Tarian khas emprak
  • Lagu-lagu
  • Penutup

Saat ini di Jepara terdapat 5(lima) kelompok Emprak yang masih eksis dan aktif yang terdapat di kecamatan Mlonggo,kecamatan Bangsri, dan kecamatan Keling gengan mayoritas pemainnya berusia tua

 

PILIH BAHASA

English French German Indonesian Italian Portuguese Russian Spanish