wisata budaya

wisata budaya (8)

Hari Jadi Jepara ( Prosesi Buka Luwur )

  • Monday, 29 May 2017 12:25
  • Written by

Buka luwur adalah tradisi tahunan yang dilakukan di desa mantingan , yaitu proses pergantian kain luwur lama dengan yang baru, di makam sultan hadlirin dan nyai ratu kalinyamat.

atau pada umumnya masyarakat jepara menyebutnya dengan khoul , acara khoul tersebut diselenggarakan dengan diiringi pawai atau karnaval yang diikuti semua warga jepara khususnya warga desa mantingan,

kegiatan tersebut langsung disambung dengan acara pengajian umum pada malam harinya. Dan pada hari-hari menjelang buka luwur, disetiap malam di jalan sultan hadlirin itu didirikan pasar malam, guna untuk meramaikan prosesi penyambutan buka luwur..

disamping kita menghadiri acara tahunan ini, kita juga bisa mengenal kembali budaya dan sejarah akan desa mantingan dan perjuangan religius yang dibawa oleh sultan hadlirin dan nyai ratu kalinyamat..

 

 

 

Pesta Lomban (Festival Kupat Lepet)

  • Wednesday, 17 May 2017 09:00
  • Written by

Festival Kupat Lepet

Rebutan Kupat dan lepet seusai pelarungan kepala kerbau di teluk Jepara, masih menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang melaksanakan pesta Lomban di pantai Kartini. Bagi mereka yang mendapatkan kupat maupun lepet ini, percaya akan mendapatkan berkah dan rizki untuk setahun yang akan datang.kupat dan lepet diperebutkan warga dalam festival kupat lepet. Tradisi ini rutin dilakukan warga Jepara untuk memperingati lebaran ketupat atau tujuh hari setelah Hari Raya Idul fitri. Dalam hitungan detik, isi gunungan kupat lepet pun ludes diburu warga. Kegiatan ini, merupakan salah satu bentuk kreatifitas dalam mengembangkan budaya tradisi di Jepara yang patut untuk dikembangkan. Lomban/kupatan sendiri, merupakan tradisi turun temurun dan sudah menjadi tradisi masyarakat Jepara.

 

Filosofi Mengenai Kupat - Lepet

Adalah Sunan Kalijaga yang pertama kali memperkenalkan pada masyarakat Jawa tentang filosofi ketupat. Sunan Kalijaga membudayakan 2 kali bakda, yaitu bakda lebaran dan bakda kupatan, dimulai seminggu sesudah lebaran.

Arti kata ketupat

Dalam filosofi Jawa, ketupat memiliki makna khusus. Ketupat atau kupat merupakan kependekan dari ngaku lepat dan laku papat. Ngaku lepat artinya mengakui kesalahan. Laku papat artinya empat tindakan.

Ngaku lepat (mengaku salah)

Tradisi sungkeman menjadi implementasi ngaku lepat (mengakui kesalahan) bagi orang Jawa. Sungkeman mengajarkan pentingnya menghormati orang tua, bersikap rendah hati, memohon keikhlasan dan ampunan dari orang lain.

Laku papat 

Laku empat ada dalam tradisi kupatan, yakni :

1). Lebaran (sudah usai, menandakan berakhirnya waktu puasa),
2). Luberan (meluber atau melimpah, ajakan bersedekah untuk kaum miskin dalam kewajiban pengeluaran zakat fitrah),
3). Leburan (sudah habis dan lebur. Dosa dan kesalahan akan melebur habis karena setiap umat Islam dituntut untuk saling memaafkan satu sama lain,
4). Laburan (berasal dari kata labur, dengan kapur yang biasa digunakan untuk penjernih air maupun pemutih dinding. Maksudnya supaya manusia selalu menjaga kesucian lahir dan batinnya).
 
 

Asal kata janur

Janur, diambil dari bahasa Arab "Ja'a Nur" (telah datang cahaya). Adapaun bentuk fisik kupat yang segi empat adalah ibarat hati manusia. Saat orang sudah mengakui kesalahannya, maka hatinya seperti kupat yang dibelah, pasti isinya putih bersih, hati yang tanpa iri dan dengki. Kenapa? Karena hatinya sudah dibungkus cahaya (Ja'a Nur).

Asal kata lepet

Lepet = silep kang rapet. Mari kita kubur/tutup yang rapat. Jadi setelah mengaku lepat, meminta maaf, menutup kesalahan yang sudah dimaafkan, jangan diulang lagi, agar persaudaraan semakin erat seperti lengketnya ketan dalam lepet.

Dari sini, kita semakin mengetahui betapa besar peran para walisanga dalam memperkenalkan agama Islam kepada masyarakat awam di Jawa waktu itu yang tidak paham bahasa Arab. Inilah cara dakwah yang mengajak, tanpa harus menginjak pemahaman atau kebodohan masyarakat.

Sumber : http://www.dutaislam.com/2016/07/filosofi-ketupat-dan-lepet-warisan-walisanga.html

Hari Jadi Jepara ( Prosesi Pentas Seni )

  • Saturday, 28 January 2017 11:58
  • Written by
 
 
 
PELAKSANAAN :
9 April :
* Kirab Budaya Prosesi Buka Luwur
* Buka Luwur Makam Ratu Kalinyamat
* Pengajian Akbar
lokasi: Ds Mantingan Kecamatan Tahunan (5 KM dari pusat kota Jepara)10 April :
* Upacara Hari Jadi Jepara Tingkat Kabupaten Dan Tingkat Kecamatan
* Tasyakuran
Setelah berakhirnya kemelut ini tampilah Ratu Kalinyamat penguasa di Jepara dan Pangeran Hadiwijaya di Pajang pada tahun 1549. Adapun identitas kedua tokoh ini yaitu Ratu Kalinyamat adalah puteri kandung dari Sultan Trenggono sedangkan Pangeran Hadiwijaya adalah putera menantu Sultan Trenggono pula. Pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat, Jepara berkembang pesat menjadi Bandar Niaga utama di Pulau Jawa, yang melayani ekspor impor. Di samping itu juga menjadi pangkalan angkatan laut yang telah dirintis sejak masa kerajaan Demak.Hari jadi Jepara telah ditetapkan tanggal 10 April 1549 berdasarkan Peraturan Daerah Tingkat II Jepara Nomor 9 Tahun 1988, tentang Penetapan Hari Jadi Jepara. Adapun penetapan peraturan daerah ini mengacu pada tokoh Putri Retno Kencono yang dinobatkan selaku penguasa Jepara dengan nama “NIMAS RATU KALINYAMAT” secara singkat tokoh wanita sejarah legendaris ini dapat diuraikan sebagai berikut :

Setelah tewasnya Sultan Trenggono dari Kerajaan Demak dalam Ekspedisi Militer di Panarukan Jawa Timur pada tahun 1546, timbulnya geger perebutan tahta kerajaan Demak yang berakhir dengan tewasnya Pangeran Prawoto dari Demak, disusul Pangeran Hadlirin dari Jepara dan Pangeran Aryo Penangsang dari Jipan Panolan.

Sebagai seorang Penguasa Jepara, yang gemah ripah loh jinawi karena keberadaan Jepara kala itu sebagai Bandar niaga yang ramai, Ratu Kalinyamat dikenal mempunyai jiwa patriotisme anti penjajahan. Hal ini dibuktikan dengan pengiriman armada perangnya ke Malaka guna menggempur Portugis pada tahun 1551 dan tahun 1554. Adalah tidak berlebihan jika orang Portugis saat itu menyebut Sang Ratu sebagai “RAINHA DE JEPARA ”SENORA PADE ROSA DE RICA”, yang artinya Raja Jepara seorang wanita yang sangat berkuasa dan kaya raya.
Serangan sang Ratu yang gagah berani ini melibatkan hampir 40 buah kapal yang berisikan lebih kurang 5.000 orang prajurit. Namus serangan ini gagal ketika prajurit Kalinyamat ini melakukan serangan darat dalam upaya mengepung benteng pertahanan Portugis di Malaka, tentara Portugis dengan persenjataan lengkap berhasil mematahkan kepungan tentara Kalinyamat.
Namun semangat patriotisme sang Ratu tidak pernah luntur dan gentar menghadapi penjajah bangsa Portugis, yang di abad 16 itu sedang dalam puncak kejayaan dan diakui sebagai bangsa pemberani di dunia.
Duapuluh empat tahun kemudian atau tepatnya Oktober 1574, Sang Ratu Kalinyamat mengirimkan armada militernya yang lebih besar di Malaka. Ekspedisi militer kedua ini melibatkan 300 buah kapal diantaranya 80 buah kapal jung besar berawak 1500 orang prajurit pilihan. Pengiriman armada militer kedua ini dipimpin oleh Panglima terpenting dalam kerajaan yang disebut orang Portugis sebagai “QUILIMO”.
Walaupun ahirnya perang kedua ini yang berlangsung berbulan-bulan tentara Kalinyamat juga tidak berhasil mengusir Portugis dari Malaka, namun telah membuat Portugis takut dan jera berhadapan dengan Raja Jepara ini, terbukti dengan bebasnya Pulau Jawa dari penjajahan Portugis di abad 16 itu.
Sebagai peninggalan sejarah dari perang besar antara Jepara dan Portugis, sampai sekarang masih terdapat di Malaka komplek kuburan yang disebut sebagai Makam Tentara Jawa. Selain daripada itu tokoh Ratu Kalinyamat ini juga sangat berjasa dalam membudayakan SENI UKIR yang sekarang ini jadi andalan utama ekonomi Jepara yaitu perpaduan seni ukir Majapahit dengan seni ukir Patih Badarduwung yang berasal dari Negeri Cina.
Menurut catatan sejarah Ratu Kalinyamat wafat pada tahun 1579 dan dimakamkan di desa Mantingan Jepara, di sebelah makam suaminya Pangeran Hadlirin. Mengacu pada semua aspek positif yang telah dibuktikan oleh Ratu Kalinyamat sehingga Jepara menjadi negeri yang makmur, kuat, dan mashur, maka penetapan Hari Jadi Jepara yang mengambil waktu Beliau dinobatkan sebagai penguasa Jepara atau yang bertepatan dengan tanggal 10 April 1549 ini telah ditandai dengan candra sengkala “TRUS KARYA TATANING BUMI” atau terus bekerja membangun daerah.
 
 

JEPARA ANNIVERSARY

When

What

Where

April 9th

o   Buka Luwur Cultural Carnival

o   Buka luwur ceremony

o   Qur’an recital

Mantingan Village, Tahunan Sub-district (5Km away from the city center)

April 10th

-          Tasyakuran (a gathering to express thanks to God)

-          Anniversary ceremony in the evel of Regency and Subdistrict

Jepara Regency

 

After the terrible condition in Jepara, Queen Kalinyamat came to be the ruler of Jepara and Prince Hadiwijaya became a king of Pajang in 1549. Queen Kalinyamat is the daughter of Sultan Trenggana (a former king of Demak Kingdom) while Prince Hadiwijaya is the son-in-law of Sultan Trenggana. When she was being the ruler, Jepara turned to be a center of trade of Java which held export and import. Besides, Jepara also turned into a navy base since Demak Kingdom era.

Based on Regional Government Regulation of Jepara Number 9 of 1988 regarding the determination Of Jepara Anniversary, the day of anniversary of Jepara Regency is April 10th, 1549. This determination was based on the day when the ruler of Jepara named “NIMAS RATU KALINYAMAT” was crowned. Here is the brief story of her:
After the death of Sultan Trenggana fom Demak Kingdom in a Military Expedition of Panarukan, East Java in 1546, some struggled to get the throne of Demak Kingdom. There died many figures such as Prince Prawoto from Demak, Prince Hadlirin from Jepara and Aryo Penangsang from Jipan Panolan.
As the ruler of Jepara which is gemah ripah loh jinawi (a Javanese saying meaning peaceful, abundant and rich soil) jepara was became the center of trade.  It is shown when she delivered her soldiers to fight against Portugal in 1551 and 1554. Portuguese called her as “RAINHA DE JEPARA”SENORA PADE ROSA DE RICA” means a women ruler who is rich and powerful.
The Queen’s attack involved 40 ships contained 5000 troopers. Sadly, this attacked was unsuccessful because Portugal had the more complete modern weapons.  When the troopers tried to take over Portugal Fort in Malacca, they were failed.
The failure of the attack never reduced the patriotism of the Queen to kick away Portugal. In the 16th century, Portugal reached their glory and was recognized as the brave country in the world. 24 years later, October 1574, Queen Kalinyamat sent the bigger troops to Malacca. This second military expedition involved 300 ships, 80 of them were big junk ships rode by 1500 selected troops. This sending was led by a Commander of the kingdom, Portuguese called him as “QUILIMO”.
This second war brought a failure still. The war happened for few months, but the troops couldn’t kick Portugal away from Malacca. Although they came to a failure, they were success on making Portugal afraid and annoyed, it made Portugal went out from Java in the 16th century.
As the relic of the big war between Jepara and Portugal, there is a graveyard in Malacca called Makam Tentara Jawa or the Graveyard of Javanese Soldiers.
Queen Kalinyamat also took a part in introducing carve art to Jepara. Nowadays, a carve art which become the main source of Income of Jepara is a combination between a carve art from Patih Badarduwung from China and Majapahit kingdom.
Based on the historical evidences, Queen Kalinyamat died in 1579. She was buried next to her husband’s tomb in Mantingan Village, Jepara. To give a tribute to all of her contribution in bringing Jepara to success, the day when she crowned to be the ruler of Jepara was set to be the anniversary of Jepara Regency.  It was April 10th, 1549 with the chronogram “TRUS KARYA TATANING BUMI” or “keep working to bring a success”.

Pesta Baratan

  • Saturday, 28 January 2017 11:57
  • Written by
Pelaksanaan : Tanggal 15 Sya'ban (Kalender Komariyah) atau tanggal 15 Ruwah (kalender Jawa)

Lokasi : dipusatkan di Masjid Al Makmur Desa Kriyan Kecamatan Kalinyamatan ,Kabupaten Jepara

 

Salah satu tradisi masyarakat Jepara yang erat kaitannya dengan Ratu Kalinyamat adalah “Pesta Baratan”. Kata “baratan” berasal dari sebuah kata Bahasa Arab, yaitu “baraah” yang berarti keselamatan atau “barakah” yang berarti keberkahan.

Ritualnya sederhana, yaitu setelah shalat maghrib, umat islam desa setempat tidak langsung pulang. Mereka tetap berada di masjid / musholla untuk berdo’a bersama. Surat Yasin dibaca tiga kali secara bersama-sama dilanjutkan shalat isya berjamaah. Kemudian memanjatkan doa nishfu syakban dipimpin ulama / kiai setempat, setelah itu makan (bancaan) nasi puli dan melepas arak-arakan. Kata puli berasal dari Bahasa Arab : afwu lii, yang berarti maafkanlah aku. Puli terbuat dari bahan beras dan ketan yang ditumbuk halus dan dimakan dengan kelapa yang dibakar atau tanpa dibakar.

Ada 2 versi cerita yang mendasari tradisi baratan yaitu :

  • Cerita Versi Pertama
    Sultan Hadirin (Sayyid Abdurrahman Ar Rumi) berperang melawan Aryo Penangsang dan terluka. Kemudian Sang isteri Nyai Ratu Kalinyamat (Retno Kencono) membawanya pulang ke Jepara dengan dikawal prajurit dan dayang-dayang. Banyak desa di sepanjang jalan yang dilewati rombongan diberi nama peristiwa menjelang wafatnta Sultan Hadirin. Salah satu contohnya adalah saat rombongan melewati suatu desa, mendadak tercium bau harum semerbak (gondo) dari jasad Sultan, maka desa tersebut sekarang kita kenal dengan nama Purwogondo.
  • Cerita Versi Kedua
    Setelah berperang melawan Aryo Penangsang, Sultan Hadirin tewas dan jenazahnya dibawa pilang oleh isterinya (Ratu Kalinyamat) pulang ke Jepara. Peristiwa itu berlangsung malam hari, sehingga masyarakat disepanjang jalan yang ingin menyaksikan dan menyambut rombongan Ratu Kalinyamat harus membawa alat penerangan berupa obor.
Setelah makan nasi puli, masyarakat di desa Kriyan dan beberapa desa di sekitarnya (Margoyoso, Purwogondo, dan Robayan) turun dari masjid / mushalla untuk melakukan arak-arakan. Ada aksi theatrikal yang dilaksanakan seniman setempat, selebihnya diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat dewasa maupun anak-anak. Ribuan orang dengan membawa lampion bergerak dari halaman masjid Al Makmur Desa Kriyan dengan mengarak simbol Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadirin menuju pusat Kecamatan. Mereka meneriakkan yel-yel ritmis : tong tong ji’ tong jeder, pak kaji nabuh jeder, dan sebagian lainnya melantunkan shalawat Nabi.
 
Dari sisi agama, tradisi ini dianggap sebagai ritual penyucian diri bagi umat islam, apalagi pelaksanaannya menjelang puasa bulan Romadlon. Selain itu, tradisi ini menggambarkan semangat dan optimisme dalam menjalani hidup, disamping keteguhan dalam menghadapi berbagai cobaan. Semua itu terangkum dalam do’a nishfu syakban yang dipanjatkan.
 
Untuk Prosesi kali ini, tidak di tempatkan di "Masjid Al Makmur" dikarenakan masjid tersebut sedang mengalami perbaikan dan dipindahkan ke "Gedung Kesenian - Desa Kriyan Kec. Kalinyamatan Kab. Jepara". Untuk Pementasan kolosal sendiri tetap di Kantor Kecamatan Kalinyamatan.

 


BARATAN PARTY

One of the traditions of Jeparasociety which is relevant to history of Kalinyamat Queen is the “Baratan Party”. Baratan word derives from an Arabic word namely “Baraah” which means salvation, or “Barakah” which means Blessing.
The tradition of Baratan Party is held every on 15thSya’ban (Arabic calendar) or on 15thSya’bans’s eve. The activity is centered at Al Makmur mosque, Kriyan village, KalinyamatanSubdistrict.

The ritual is simple. After Maghrib praying (sunset praying time) when community of Moslems finished to pray, they don’t straight go home, but remain to stay at Mosque. Furthermore, they read Surah Yaseen 3 times continued with implementation of Isha praying together.  In the ceremony, local Kiai leads to pray. After that, they eat bancaan (a traditional thanksgiving) and Puli rice and then do the procession. The word of Puli derives from Arabic: Afwu lii, which means please forgive me. Puli is made of real rice and sticky rice which both of them are pounded softly and eaten with fired coconut.
There are two versions of story on background of Baratan tradition:

  • The first version.
    Sultan Hadirin (Sayyid Abdurrahman Ar Rumi) fight with AryoPenangsang and he was injured. Then, his wife, Kalinyamat Queen or RetnoKencono took him to Jepara, escorted by the guards and her followers. Many villages as long as street which passed by Sultan Hadirin and the servants, is named “a certain name” adjusted with events time comes close to Sultan Hadirin’s death. One of them is when Sultan Hadirin and the servants passed a village, suddenly they smell fragnant (Gondo) from Sultan Hadirin’s corpse, then now the village is calledPurwogondo.
  • The second version
    When the fighting againstAryaPenangsang, Sultan Hadirinwas killed and Kalinyamat Queen took Sultan Hadirin’s corpse home to Jepara. This tragedy was held at night, so that, people who are at along the street who want to see and greet the entourage of Queen Kalinyamat should bring lighting equipment in the form of obor((lighting equipment made of bamboo, then filled with kerosene and covered with cloth).

After eating Puli rice, people at Kriyan Village and some villages around it (Margoyoso, Purwogondo, and Robayan village) leave the Mosque to join procession. There is Theatrical action which is held by local artists and a part of it followed by all elements of society either adult or children. Thousands of people bring paper lanterns moves from yard of Al Makmur mosque in Kriyan village by escorting the symbol of KalinyamatQueen and Sultan Hadirin toward the center of the district. They yelling rhythmically: TONG TONG JI’ TONG JEDER, PAK KAJI NABUH JEDERand the others sing Sholawat of prophet.

From the religion side, this tradition is a ritual of purification for Muslims, especially it held before Ramadan fasting month. Moreover, this tradition illustrates the spirit and optimism in life, in addition to firmness In the face of temptation. All were summarized in Sha’ban Nishfu prayers were being said.

 

Pesta Lomban ( Larungan Kepala Kerbau )

  • Saturday, 28 January 2017 11:57
  • Written by

Pesta Lomban di Jepara pada awalnya adalah pestanya masyarakat nelayan di wilayah Kabupaten Jepara, namun dalam perkembangan peasta ini telah menjadi milik masyarakat Jepara pada umumnya. Pesta ini merupakan puncak acara dari Pekan Syawalan yang diselenggarakan pada tanggal 8 syawal atau 1 minggu setelah hari Raya Idul Fitri. Pesta lomban oleh masyarakat Jepara sering pula disebut sebagai “ Bakda / Bada Lomban “ atau Bakda / Bada Kupat . Disebut “ Bakda Kupat “ kasrena pada saat itu masyarakat Jepara merayakannya dengan memasak kupat dan lepet disertai rangkaian masakan lain yang lezat seperti : opor ayam, rendang daging, sambal goreng, oseng-oseng dan lain-lain. Kupat adalah bentuk tradisional yang tidak asing lagi bagi masyarakat khususnya masyarakat Jawa Tengah. Kupat ini terbuat dari beras yang dibungkus daun kelapa muda (janur), rasanya seperti nasi biasa. Sedangkan lepet hampir seperti kupat tetapi terbuat dari ketan disertai parutan kelapa dan di beri garam. Lepet ini rasanya lebih gurih dan dimakan tanpa lauk. Bentuknya bulat panjang 10 cm. selain hidangan khas bakda kupat dengan kupat lepetnya, masyarakat Jepara masih menyediakan aneka macam makanan kecil. Sedangkan anak-anak merayakan hari raya ini dengan memakai pakaian baru warna-warni dan siap untuk “berlomban-ria” di Pantai Kartini Jepara sebagai pusat keramaian Pesta Lomban.
 
Istilah Lomban oleh sebagian masyarakat Jepara disebutkan dari kata “Lomba-lomba” yang berarti masyarakat nelayan masa itu bersenang-senang melaksanakan lomba-lomba laut yang seperti sekarang masih dilaksanakan setiap pesta Lomban, namun ada sebagian mengatakan bahwa kata-kata lomban berasal dari kata “Lelumban” atau brsenang-senang. Semuanya mempunyai makna yang sama yaitu merayakan hari raya dengan bersenang-senang setelah berpuasa Ramadhan sebulan penuh.
 
Mereka mempersiapkan “Amunisi” guna dipergunakan dalam “Perang Teluk Jepara” baik amunisi logistic berupa minuman dan makanan maupun amunisi perang berupa ketupat, lepet dan kolang kaling, guna meramaikan dibawa pula petasan sehingga suasananya ibarat perang masa sekarang Keberangkatan armada perahu ini diiringi dengan gamelan Kebogiro.
Bunyi petasan yang memekakkan telinga dan peluncuran “Peluru” kupat dan lepet dari satu perahu ke perahu yang lain. Saat “Perang Teluk” berlangsung dimeriahkan dengan gamelan Kebogiro. Seusai pertempuran para peserta Pesta Lombang bersama-sama mendarat ke Pulau Kelor untuk makan bekalnya masing-masing. Di samping makan bekalnya situasi di Pulau Kelor tersebut ramai oleh para pedagang yang juga menjual makanan dan minuman serta barang-barang kebutuhan lainnya. Selain pesta-pesta tersebut, para nelayan peserta Pesta Lomban tak lupa lebih dahulu berziarah ke makam Encik Lanang yang dimakamkan di Pulau Kelor pada sore hari satu hari sebelum Pesta Lomban berlangsung.

Pesta Lomban masa kini telah dilaksanakan oleh warga masyarakat nelayan Jepara bahkan dalam perkembangannya sudah menjadi milik warga masyarakat Jepara. Hal ini nampak partisipasinya yang besar masyarakat Jepara menyambut Pesta Lomban. Dua atau tiga hari sebelum Pesta Lomban berlangsung pasar-pasar di kota Jepara nampak ramai seperti ketika menjelang Hari Raya Idul Fitri. Ibu-ibu rumah tangga sibuk mempersiapkan pesta lomban sebagai hari raya kedua. Pedagang bungkusan kupat dengan janur (bahan pembuat kupat dan lepet) juga menjajakan ayam guna melengkapi lauk pauknya.


pesta Lomban berlangsung sejak jam 06.00 pagi dimulai dengan upacara Pelepasan Sesaji dari TPI Jobokuto. Upacara ini dipimpin oleh pemuka agama desa Jobokuto dan dihadiri oleh Bapak Bupati Jepara dan para pejabat Kabupaten lainnya.
 
Selanjutnya sesaji dibawa perairan barat pulau panjang untuk di larung.
 
 
Maksud dari upacara pelarungan ini adalah sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada Alloh SWT, yang melimpahkan rizki dan keselamatan kepada warga masyarakat nelayan selama setahun dan berharap pula berkah dan hidayahnya untuk masa depan.

Tradisi pelarungan kepala kerbau ini dimulai sejak Haji Sidik yang kala itu menjabat Kepala Desa Ujungbatu sekitar tahun 1920. Upacara pemberangkatan sesaji kepala kerbau yang dipimpin oleh Bapak Bupati Jepara, sebelum diangkut ke perahu sesaji diberi do’a oleh pemuka agama dan kemudian diangkat oleh para nelayan ke perahu pengangkut diiringi Bupati Jepara bersama dengan rombongan. Sementara sesaji dilarung ke tengah lautan, para peserta pesta lomban menuju ke “Teluk Jepara” untuk bersiap melakukan Perang Laut dengan amunisi beragam macam ketupat dan lepet tersebut. Selanjutnya dengan disaksikan ribuan pengunjung Pesta Lomban acara “Perang Teluk” berlangsung ribuan kupat, lepet, kolang kaling telur-telur busuk berhamburan mengenai sasaran dari perahu ke perahu yang lain.

 “Perang Teluk” usai setelah Bupati Jepara beserta rombongan seusai melarung sesaji kepala kerbau merapat ke Pantai Kartini dan mendarat di dermaga pantai kartini dilanjutkan dengan acara Pesta Kupat Lepet. Jumlah kupat lepet yang disediakan panitia untuk pesta tersebut sebanyak 2.014 buah.

Di sini para peserta pesta lomban dihibur dengan tarian tradisional.

 

 


LOMBAN PARTY

Lomban Party in Jepara was a party for the fishermen in Jepara. As the time changes, this party now is done by the people of Jepara. This party becomes the highlight of Shawwal week. It is held on the eighth day of Shawwal month every year of Islamic Calendar. It is a week after the day of Eid Al Fitr. Jepara people often called it as ‘bakda’, ‘bakda kupat’, or ‘bakda lomban’. They called it bakda kupat because when it is the day, they celebrate it by cooking kupat, lepet and others delicious food like opor ayam, rendang daging, sambal goreng, oseng-oseng, etc. Kupat (Javanese) or ketupat (Indonesia) is not a new food for Indonesian especially those who come from Central Java. This food is made of rice packed up inside a diamond-shaped pouch made of a woven palm leaf. The taste is the same with rice in common. On the other hand, lepet and kupat is alike but lepet is made of sticky rice served with a salted coconut grated. Lepet tastes savory so we can eat it with no side dishes. It is 10 cm long and has a round shape. Besides cooking the typical food of Bakda kupat and lepet, people also cook snacks. The childrens are celebrating by wearing new colorful clothes and getting ready to the Kartini Beach. Kartini Beach is the center of crowd when Lomban Party is happening.

Some people said that the word Lomban derives from the word Lomba-lomba which means the time when the people was very joyful doing any sea competition which is still be done nowadays. Some said that the word derives from the word lelumban or having fun. These two derivations have the same meaning. They are having fun after having a full month of Ramadan fasting. 

People prepare “ammunition” which is used in “Perang Teluk Jepara”. Perang Teluk Jepara is a series of Lomban Party. Ammunitions used are foods and beverages, and also “weapons” like ketupat, lepet, and kolang kaling. They also bring fireworks so that it sounds like a real war. The traditional boats depart with the back sound of kebogiro, a gamelan playing.

The firework sounds and the bullet break the ears. The kebogiro song is still played during the war. After it finishes, all of the participants land in Kelor island to eat their foods. There also many people who sell foods, beverages and also others needs. On the day before Lomban Party, all of the fishermen who participate in the party go to the tomb of Encik Lanang who is buried in Kelor Island.

Lomban Party nowadays is celebrated by not only the fishermen but also the people of Jepara. It can be seen by their enthusiasm for the preparation of the party. Two or three days before the party, markets in Jepara are becoming as crowded as the days before Eid Al-Fitr day. The housewives are busy preparing the lomban party as the second big day after eid al-fitr. The seller of kupat and janur (young palm tree leaf) as the stuff to make kupat also sells chickens as the side dish.

Lomban Party starts at 6 a.m. with the ceremony of releasing the offerings from TPI Jobokuto. This ceremony is led by Muslim figure from Jobokuto Village. It is attended by the Regent and the crews. After that, the offerings are brought to the west of Panjang Island to be thrown to the sea.

The purpose of throwing the offerings is to thank God for all bless and safety that have been given to the villagers during the year before and hoping for the year ahead.

The tradition of throwing the buffalo head to the sea started since Haji Sidik being the village head of Ujungbatu Village in 1920. The ceremony of releasing the buffalo head to the sea is led by the Regent of Jepara. Before the buffalo head is put at the traditional boat filled with offerings, the religious leaders lead the prayers and the fishermen put the ammunitions to the boat accompanied by the Regent and the crews. Meanwhile, the offerings are thrown to the middle of the sea. All of the participants are heading to the Gulf of Jepara to do the sea war. The participants throw Kupat, lepet, kolang kaling and rotten eggs to each other.

 “Perang Teluk” ends after the Regent of Jepara and the crews released the buffalo’s head to the sea. The Regent and the Crews then go to Kartini Beach, they land in Kartini Beach Port. They continued the celebration to Kupat Lepet Party. The amount of Kupat Lepet served by the committee is 2.014. There is also a show of traditional dance to entertain the participants

 

 


Perang Obor

  • Saturday, 28 January 2017 11:56
  • Written by
 
 
 
Pelaksanaan: Bulan Apit (Jawa) / Dzulhijah (Bulan Hijriah)
Lokasi: Ds Tegal Sambi Kecamatan Tahunan ( 6 KM dari pusat kota Jepara)
 
Upacara tradisional “Obor-oboran” merupakan salah satu upacara tradisional yang dimiliki oleh masyarakat Kabupaten Jepara, khususnya desa tegalsambi kecamatan Tahunan Kabupaten Jepara yang tiada duanya di Jawa Tengah ini dan mungkin di seluruh Indonesia. Obor pada upacara tradisional ini adalah gulungan atau bendelan 2 (dua) atau 3 (tiga) pelepah kelapa yang sudah kering dan bagian dalamnya diisi dengan daun pisang kering (jawa : Klaras ).
 
Obor yang telah tersedia dinyalakan bersama untuk dimainkan/digunakan sebagai alat untuk saling menyerang ehingga sering terjadi benturan–benturan obor yang dapat mengakibatkan pijaran–pijaran api yang besar, yang akhirnya masyarakat menyebutnya dengan istilah “ Perang Obor “. Perang Obor diadakan atas dasar kepercayaan masyarakat desa tegalsambi terhadap peristiwa atau kejadian pada masa lampau yang terjadi di desa tersebut.
 
Konon ceritanya pada abad XVI Masehi, di desa tegalsambi ada seorang petani yang sangat kaya raya dengan sebutan “Mbah Kyai Babadan” Beliau mempunyai banyak binatang piaraan terutama kerbau dan sapi. Untuk mengembalakannya sendiri jelas tak mungkin, sehingga beliau mencari dan mendapatkan pengembala dengan sebuatan KI GEMBLONG. Ki Gomblong ini sangat tekun dalam memelihara binatang – binatang tersebut, setiap pagi dan sore Ki Gemblong selalu memandikanya di sungai, sehingga binatang peliharaannya tersebut tampak gemuk – gemuk dan sehat. Tentu saja kyai babadan merasa senang dan memuji Ki Gemblong, atas ketekunan dan kepatuhannya dalam memelihara binatang tersebut.
 

Setelah kejadian ini hampir setiap hari Ki Gemblong selalu menangkap ikan dan udang, sehingga ia lupa akan tugas / kewajibannya sebagai penggembala. Dan akhirnya kerbau dan sapinya menjadi kurus-kurus dan akhirnya jatuh sakit bahkan mulai ada yang mati. Keadaan ini menyebabkan Kyai Babadan menjadi bingung, tidak kurang –kurangnya dicarikan jampi – jampi demi kesembuhan binatang –binatang piaraannya tetap tidak sembuh juga.

Akhirnya Kyai Babadan mengetahui penyebab binatang piaraannya menjadi kurus –kurus dan akhirnya jatuh sakit, tidak lain dikarenakan Ki Gemblong tidak lagi mau mengurus binatang – binatang tersebut namun lebih asyik menangkap ikan dan udang untuk dibakar dan dimakannya.

Melihat hal semacam itu Kyai Banadan marah besar, disaat ditemui Ki Gemblong sedang asyik membakar ikan hasil tangkapannya. Kyai Babadan langsung menghajar Ki Gemblong dengan menggunakan obor dari pelepah kelapa. Melihat gelagat yang tidak menguntungkan Ki Gemblong tidak tinggal diam, dengan mengambil sebuah obor yang sama untuk menghadapi Kyai Babadan sehingga terjadilah “ Perang Obor “ yang apinya berserakan kemana mana dan sempat membakar tumpukan jerami yang terdapat disebelah kandang. Kobaran api tersebut mengakibatkan sapi dan kerbau yang berada di kandang lari tunggang langgang dan tanpa diduga binatang yang tadinya sakit akhirnya menjadi sembuh bahkan binatang tersebut mampu berdiri dengan tegak sambil memakan rumput di ladang.

Kejadian yang tidak diduga dan sangat dramatis tersebut akhirnya diterima oleh masyarakat desa Tegalsambi sebagai suatu hal yang penuh mukjizat, bahwa dengan adanya perang obor segala jenis penyakit sembuh. Pada saat sekarang upacara tradisional Perang Obor dipergunakan untuk sarana Sedekah Bumi sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan Rahmat, Hidayah serta taufikNya kepada warga Desa Tegal Sambi, dan event ini diadakan setiap tahun sekali.

 

 “THE TORCH WAR”

Date of performances: Apit Month (Javanese)/ Dzulhijah (Muslim’s calendar)

Location: Tegal Sambi Village, Tahunan Sub district (around 6km from city center of Jepara). Traditional ceremony “Obor-oboran” is a traditional ceremony, which is owned by the society of Jepara, especially Tegal Sambi village Tahunan sub district Jepara Regency. Obor (torch) in this ritual made by two or three roll of dry-palm frond filed with dry leaves of banana (Javanese: klaras).

The prepared torches are burnt together as an attacker in order to cause big hot flame, then called as “Perang Obor” or Torch War. Perang Obor held on the believed of Tegal Sambi villagers towards the occurrences that happened on the village in the past.

  In the 16th century, at Tegal Sambi  there was a rich farmer called “Mbah Kyai Babadan”. He had many cattles especially buffaloes and cows. It was impossible for him to look after his cattle by himself, so he looked for shepherd and he found one named KI GEMBLONG. Ki Gemblong was very diligent in maintaining the cattle, he always washed his cattle every morning and afternoon at the river it caused the cattle looked fat and healthy. Kyai Babadan was very happy; he then praised Ki Gemblong for his diligences and allegiances in maintaining the cattle. 

One day, the buffaloes and cows was herd by Ki Gemblong was herding on the edge of Kembangan River and saw lot of fish and shrimps there. Without waiting any longer, he immediately cached the fish and shrimps then cooked and ate it at the stable.

After this event, almost every day Ki Gemblong caught fish and shrimps, he forgot about his duty as a shepherd. Finally, the buffaloes and cows became weak and sick even death. This condition made Kyai Bababadan confused. He tried to heal his pets with magic but it didn’t work.

Finally, Kyai Babadan found out the reason, which made his cattles, became weak and sick. It was because Kyai Gemblong did not looking after his cattle but he always caught fish and shrimp then cooked and ate it.

Kyai Babadan was furious when he saw Ki Gemblong was grilled his caughtfish. Then Kyai Babadan hit Ki Gemblong with torch made from coconut palm. Seeing unfavorable body language, Ki Gemblong took a same torch against Kyai Babagan. Then “Perang Obor “finally began. The fire from the torches spread out and burnt haystack beside the stable. The fire blaze made the cows, buffaloes run away from the stable, and the miracle happened. The cattle who was sick suddenly healed even they can stand up and grazing in the field.

Tegal Sambi villagers finally accepted the unpredictable and dramatic moment as a miracle. They believed with “Perang Obor” tradition all of diseases could be healed. Nowadays, the traditional ceremony Perang Obor is used to  hold Sedekah Bumi (a post-harvest thanksgiving ceremony) as an expression to God for his mercy towards Tegal Sambi villagers. This event is held once a year.

Jembul Tulakan

  • Saturday, 28 January 2017 11:55
  • Written by
 

Pelaksanaan Jembul Tulakan diadakansetahun sekali, setiap bulan Apit hari Senin Pahing, sebagai tanda rasa syukur pada Tuhan Yang Maha Esa atas rizki yang dilimpahkan pada penduduk Kademangan Tulakan.

Lokasi Jembul Tulakan terletak di desa Tulakan Kecamatan Donorojo + 40 km dari kota Jepara.

Ki Demang Barata mengadakan upacara syukuran yang kemudian dikenal dengan sedekah bumi. Arti kata sedekah bumi adalah sedekah ( amal )dari hasil bumi yang diwujudkan dengan berbagai macam makanan kecil.
Sebagai langkah untuk mengingat laku tapa brata yang dilakukan oleh Nyai Ratu Kalinyamat dalam menuntut keadilan atas kematian suaminya Sunan Hadiri, yang dibunuh oleh Arya Panagsang. Sebelum sedekah bumi pada hari Senin Pahing, didahului manganan dipunden Nyai Ratu Kalinyamat, yaitu bekas pertapaan. Pada hari Jum’at Wage sesuai dengan riwayat yang menyebutkan bahwa kedatangan Ratu Kalinyamat untuk bertapa adalah Jum’at Wage.
Sebagai tanda bukti dan setia murid-murid Ki Demang Barata yang sudah memimpin pedukuhan, masing-masing mengantarkan makanan kecil kerumah Ki Demang. Makanan kecil tersebut diletakkan dalam dua buah ancak dan diatas makanan kecil ditanamkan belahan bambu yang diirat tipis-tipis. Iratan tipis bambu tersebut melambangkan rambut jembul dengan diatur sedemikian rupa.
Ancak dari rambut jembul dari iratan bambu tipis tersebut dinamakan Jembul Tulakan. Jembul merupakan perlambangan dari ungkapan yang diucapkan oleh Ratu Kalinyamat waktu menjalani pertapaan yaitu Ora pati-pati wudhar tapaningsun, yen durung keramas getehe lan karmas keset jembule Aryo Panangsang yang dapat berarti tidak akan menyudahi tapa kalau belum keramas dengan darah dan keset rambut Aryo Panangsang.

2. Manfaat.
Dari sisi atraksi budaya, upacara tradisional Jembul Tulakan cukup menarik karena melibatkan seluruh masyarakat yang merasa memiliki tradisi tersebut. Dengan terlibatnya masyarakat secara merata membuat tradisi ini mampu terpelihara dari waktu ke waktu dengan berbagai nuansa-nuansa baru dengan tetap mempertahankan persyaratan upacara yang dianggap harus ada, baik dari segi peralatan maupun langkah- langkah yang harus dilalui.
Atraksi Jembul Tulakan ini, disamping menarik bagi masyarakat pendukung budaya tersebut sebagai bagian dari aktifitas budaya penyelarasan dengan alam lingkungan, juga menjadi tontonan budaya bagi masyarakat lain yang tidak terlibat secara langsung dengan kegiatan ini.
Dengan berkumpulnya berbagai lapisan masyarakat pendukung maupun yang datang sebagai penonton, maka tradisi ini sekaligus dapat dijadikan sebagai daya tarik wisata, minimal wisata local. Munculnya aktifitas budaya ini juga dibarengi dengan aktifitas ekonomi. Setiap kali perayaan pasti mendatangkan penjual makanan kecil maupun warung-warung souvenir dan oleh-oleh yang menjadi makanan khas disana. Atraksi ini mampu mendatangkan betuk kegiatan ekonomi baru sebagai unit usaha yang mendukung kegiatan pariwisata meskipun masih dalam lingkup kecil atau local. Namun demikian lama kelamaan dengan tersebarnya informasi mengenai lokasi-lokasi wisata yang ada di Kabupaten Jepara, diharapkan atraksi budaya Jembul Tulakan ini dapat menjadi daya tarik wisata yang bersifat nasional. Apalagi melihat perkembangan yang ada di Jepara sekarang ini berkaitan dengan hadirnya para pengusaha asing untuk melakukan kegiatan ekonomi pada industri kerajinan ukir. Biasanya para pendatang asing tersebut juga tertarik dengan tradisi budaya yang amsih terpeihara untuk lebih mudah menyesuaikan dengan kebiasaan masyarakat.
Langkah strategis yang ditempuh oleh Dinas Pariwisata Jepara juga dapat dijadikan indikator bahwa Upacara Jembul Tulakan memberi kontribusi pada daya tarik wisatawan, dengan cara memasukkannya sebagai salah satu jadwal paket wisata yang dapat dikunjungi. Hal tersebut sekaligus menjadi salah satu sumber pendapatan Pemerintah Kabupaten, baik berupa pajak penjualan pada warung-warung dan pemasukan bagi masyarakat sendiri sebaagi penjual.
Berkaitan dengan hal tersebut, Pemerintah Kabupaten sendiri mempunyai kepedulian untuk melestarikan tradisi ini. Di satu sisi sebagai salah satu sumber pemasukan daerah sisi lainnya memang sudah menjadi bagian sumber mata pencaharian tambahan masyarakat sekitar objek wisata tersebut dengan menjual makanan, jasa penitipan sepeda dan transportasi.
Masyarakat secara umum merasa bahwa pelaksanaan tradisi sedekah bumi memberikan manfaat. Pertama, sebagai sarana bersyukur pada sang pencipta karena selama satu tahun masyarakat talah diberi rejeki hasil panen. Kedua sebagai media pembelajaran bagi setiap pemimpin desa bagaimana menempatkan dirinya menjadi seorang pemimpin yang baik. Mampu mengayomi dan menciptakan ketemtraman dan kasejahteraan seluruh masyarakat. Hil ini disampaikan melalui proses mengitari jambul. Seorang pemimpin harus selalu memperhatikan kehidupan masyarakat secara umum.
Ketiga, tadisi sedekah bumi ini merupakan sarana hiburan bagi masyarakat, beupa wayang maupun tayub. Keempat, pada saat dilakukan sedekah tersebut biasanya mincul usaha-usaha sampingan penduduk baik dalam bentuk jasa maupun makanan kecil, sebagai cara untuk menambah pendapatan penduduk. Kelima, sebagai sarana untuk mengingat perjalan sejarah desa, baik yang berupa cerita rakyat maupun yang sudah dapat dibuktikan kebenarannya. Terutama dalam tradisi sedekah Bumi Tulakan ini adalah sejarah mengenai perjuangan ratu Kalinyamat.
Menurut cerita masyarakat setempat yang selalu dituturkan melalui prosesi Sedekah bumi, pada waktu ratu bertapa yang memakan waktu cukup lama , banyak sekali rambut panjangnya rontok. Rambut-rambut tersebut kemudian dikumpulkan ditanam oleh Kasturi (sesepuh dukuh )bapaknya rukan sehingga seolah-oalh sperti makam. Ada dua bumbung yang berhasil ditemukan, yang satu berisi rontokan rambut sedangkn satunya cacatan namun sulit dilacak keberadaanya dan hilan.Akan tetapi masyarakat meyakini bahwa meskipun buktinya belum ditemukan namun keberadaan Ratu Kalinyamat diyakini adanya.

3. Peralatan dan Simbul-simbul.
Dalam pelaksanaan Sedekah Bumi Tulakan atau dikenal juga dengan Upacara Jembul Tulakan ini, disuguhkan dua macam Jembul. Jembul yang besar di depan atau sering disbut Jembul Lanang, sedangkan jembul kecil berada di belakang disebut dengan jembul wadon. Khusus Jembul Lanang dihiasi dengan iratan bambu tipis sedangjan Jembul Wadon tidak. Jembul Lanang di dalamnya terdapat bermacam-macam makanan kecil, seperti jadah (gemblong), tape ketan. Apem dan sebagainya, sedangkan Jembul Wadon berisi lauk-pauknya
Jumlah jembul disesuaika dengan jumlah pedukuhan yang dipimpin oleh kepala-kepal dukuh atau dalam istilah sekarang adlah Kamituwo. Antara lain,pertama, jembul Krajan yaitu jembul dari penduduk dukuh Krajan,tempat kediman Ki demang sebagai pusat pemerintahan Kademangan. Jembul ini memounyai cirri khas berupa golek yang mengganbarkan seorang tokoh bernama Sayid Usman, seorang Nayoko Projo Ratu Kalinyamat.
Kedua, Jembul Ngemplak merupakan wujud dari penghargaan masyarakat untuk Ki Leboh atas perjuanganya membuka perdukuhan Ngemplak, mengingat Ki Leboh adalah kepala dukuh Kedondong yang wilayahnya termasuk Ngemplak. Sebagai identitas Ki Leboh dibuatlah golek dari tokoh yang bernama Mangun Joyo seorang Nayoko Ratu Kalinyamat.
Ketiga, jembul Winong adalah penghargaan terhadap Ki Buntari yang telah merintis sebagai kepala dukuh dan membangunnya dengan baik. Sebagai perlambang dari tokoh tersebut dibuat golek yang merupakan barisan prajurit yang gagah perkasa yang mengawal dan mengamankan keberangkatan Ratu Kalinyamat dari kabupaten Jepara sampai selama di pertapaan Siti Wangi-Sonder.
Keempat, Jembul Drojo merupakan penghargaan terhadap Ki Purwo atas segala jasanya membuka pedukuhan. Sebagai bentuk dari penghargaanya maka dibuatlah golek yang menggambarkan seorang tokoh yang bernama Mbah Leseh seorang tokoh Kalinyamat.
Prosesi dari penampilan jembul ini adalah satu-persatu dengan pertunjukan tarian tayub. Hal ini sebagai pengulangan kembali peristiwa pada waktu para nayoko menghadap Ratu Kalinyamat dan dipertunjukan tarian penghormatan dengan tayup.

4. Prosesi Upacara.
Upacara Jembul Tulakan ini dimulai denan mencuci kaki petinggi atau sekaaran dikenal dengan kepala desa dengan kembang setaman. Aktivitas ini dilakukan oleh perangkat desa, sebagai perlambang kepad Ratu Kalinyamat. Pada mas asekarang masyarakat lebih memajnai sebagai bentuk permohonan agar tercipta kehidupan yang tentram, bersih dari malapetaka dan segala kesulitan yang mebimpa penduduk. Disamping itu sekaligus untuk mengingatkan kepada petinggi agar selau bersih dalam segalatindakan dan langkahnya, tidak melnggar larangan-larangan agama, larangan pemerintah dan menerapkan asas kejujuran dan keadilan dalam memimpin masyarakat desa Tulakan.
Setelah pencucian kaki petinggi maka dilakukan selamtan sebagai lambing permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar desa Tulakan tetap selamat sentosa dan hasil bmi pada tahun mendatang melimpah ruah sehingga kehidupan penduduk Tulakan menjadi sejahtera, cukup sandang, pangan dan papan.
Acara mengitari Jembul dibanyak tiga kali merupakan inti dari proses Jembul Tulakan. Kegiatan mengitari Jembul ddilakukan oleh petinggi diikuti oleh ledek atau penari tayup dan para perngakat desa. Prosesi ini dilakukan unuk menggmbarkan kembali suasana pada waktu Ratu Kalinyamat melakukan pemeriksaan terhadap para nayoko projo yang datang menghadap bekiau sekaligus untuk menyerahkan hulu bekti yang dibawanya . Kesetiaan para nayoko projo ini ditunjukan sewaktu ratu melakukan pertapaannya. Suasana ini pada masa sekarang lebih diartikan sebagai pengingat-ingat agar para pemimpin desa Tulakan selalu menyempatkan diri untuk memberikan perhatian pada staf perangkat desanya dalam menjalankan tugas sehari-hari. Dengan pemantauan tersebut akan tercipte keadaan desa yang aman sentausa.
Di samping memantau para pembantunya, pemimpim desa juga perlu memperhatihan rakyat yang dipimpinnya, dengan turun langsung mengenal masyarakat secara dekat dari perdudukuhan–perdukuhan yang ada, sehingga terciptalah kondisi di desa yamg tertib. Pemimpin benar-benar dapat bertindak mengayomi dan nganyemi dalam arti melindungi dan menciptakan ketemtraman desa yang dipimpinnya.
Setelah dilakukan inti dari upacara Jembul Tulakan, maka sebagai penutup dilakukan Resikan yaitu kergiatan membersihkan tempat yang telah dipakai untuk melakukan upacara. Aktivitas ini dilakukan oleh warga masyarakat Desa Tulakan secara beramai-ramai. Hal ini dimaksudkan sebagai bentuk pengusiran terhadap penyakit-penyakit dan kajahatan-kejahatan dari Desa Tulakan .
Seminggu setelah dilakukan sedekah bumi Tulakan, di dukuh Pejing juga melakukan sedekah bumi yang dusebut sedekah bumi Pejing. Hal ini berkaitan dengan cerita, bahwa pada waktu dilakukan sedekah bumi Tulakan, Mbah Cabuk selaku ketua pedukuhan sakit sehingga tidak bisa datang.
Melihat sakitnya Mbah Cabuk, anak-anaknya serta masyarakat dukuh mengharapkan agar dukuh tersebut diijinkan melakukan upacara jembul serndiri setelah mbah Cabuk sembuh. Harapan ini terkabul, masyarakat di dukuh tersebut diijinkan melakukan sedekah bumi sendiri oleh Kademangan dengan syarat dalam prosesi tersebut tidak ada jembul.
Setelah seminggu kemudian Mbah cabuk sembuh, diadakanlah upacara sedekah bumi Pejing. Diijinkanya Pajing melakukan sedekah bumi sendiri ini, dikarenakan Ki Barata selaku Demang dikenal seorang pemimpin yang arif bijaksana. Sehingga untuk tetap menjaga kerukunan masyarakat di Kademangan, meskipun Pejing melakukan sedekah bumi sendiri harus tetap mematuhi beberapa persyaratan yang diajukan oleh Ki Barata
Syaratnya adalah sedekah bumi di Kademangan Tulakan harus tetap didatangi oleh masyarakat Dukuh Pejing. Waktu pelaksanaan sedekah bumi Pejing tidak boleh bersamaan dengan sedekah bumi Tulakan. Hal ini dimaksudkan agar pada waktu dilaksanakannya sedekah bumi Tulakan, masyarakat Pejing masih bisa mendatangi. Adapun pembagian waktunya, sedekah bumi Tulakan dilakukan pada hari senin pahing maka sedekah bumi Pejing dilakukan seimnggu kemudian yaitu senin Wage
Syarat utama lainnya adalah tidak adanya jembul dalam rangkaian upacara, adapun keramaian yang diperbolehkannya Tayub. Berbagai persyaraan telah disetujui oleh Mbah Cabuk dan kembalilah beliau ke Pejing untuk melakukan sedekah bumi sendiri.
Tradisi Jembul Tulakan dilaksanakan setiap bulan Apit (Dzulqo'dah ) tepatnya pada hari senin sesudah upacara pada malam Jum’at Wage di Desa Sonder, hal ini disesuaikan dengan cerita Ratu Kalinyamat di Desa Sonder pada waktu malam Jum’at Wage. Kemudian pada hari Senin Pahing para Nayoko Projo (para pembesar negeri) menghadap Ratu dengan membawa Hulu Bekti glondong pangareng-areng (penghormatan dengan membawa kebutuhan dan perlengkapan sang Ratu ).
Perlambangan jembul-jembul yang jumlahnya empat dimaksudkan sebagai perwakilan dukuh dukuh yang ada pada waktu itu dan menghadapnya para Nayoko Projo untuk mengantarka hulu bekti. Prosesi upacra yang menggambarkan penyembahan jembul jembul oleh tledek (penari Tayub wanita) mempunyai arti bahwa menurut cerita masa lalu pada waktu sang nayoko menghadap sang ratu mendapat penghormatan dari dayang dayang atau pendamping. Tarian tayub sendiri sebagai bentuk penghormatan para nayoko yang diwujudkan dengan jembul jembul.

JEMBUL TULAKAN

When: JembulTulukan is held once a year, every April on Monday Pahing (traditional day in Javanese culture), as a gratitude expression to God for the Mercy and Blessing to KademenganTulakan people.

Location: JembulTulakanis located in Tulakan village in Donorojosub-district ± 40 kilometers from Jepara Regency.

Ki DemangBarata held a thanksgiving ceremony which is known as SedekahBumi (a post-harvest thanksgiving ceremony). The meaning of SedekahBumi is alms from the earth in the formof traditional food.

As a step to remember laku tapa brata (meditation) which had been done by Queen Kalinyamat in demanding the justice for her husband’s death SunanHadiri. Who was killed by AryaPanangsang, it was held SedekahBumi. Before sedekahbumi on Monday Pahing, it begins with manganan(pilgrim) in Queen Kalinyamat’spunden (Javanese holy place), a place for meditate. The history says that on Friday Wage Queen Kalinyamat arrived to meditate. To show their faith to Ki Demang who had led the small village, they delivered traditional food to Ki Demang’s house. The traditional food had been set in two ancak (a place to put offerings) and while on the top of it a part of bamboo which is cut into a layer was planted. It was a symbol of rambutjembul(front of the head hair)which had been arranged.

Ancak from rambutjembul from layers bamboo’s cut named JembulTulakan. Jembul is a symbol of Queen Kalinyamat’s expression while she was meditating. She said “Orapati-patiwudhartapaningsun, yen durungkramasgetehelankesetjembuleAryoPenangsang” it means she would not finish the meditation until she washed her hair with AryaPenangsang’sblood and wiped her feet with AryaPenangsang’s hair.

2. Benefit

The traditional ceremony of JembulTulakan is quite interesting because all of the people participate in the ceremony. The participation of the people would keep the existence of the tradition from time to time with new nuance but it still keeps the rule of the tradition, both in the tools and steps. Besides attracting the people, JambulTulakan attractionbecomes one of cultural activities which are held annually.

All of people who come to see the tradition could be the attractivenessfor local tourist interest to see the tradition.In every celebration there are many sellers and stands which sellsnacks, souvenirs and traditional foods. This event brings economic activity as a businessunit for local people to support tourism activity.  As the time flies the information about tourism objects in Jepara Regency has been spread. JembulTulukan attraction is expected to attract many people and to become the national tourism destination. Furthermore, the developments in Jepara Regency there are many foreign entrepreneurs starting the carving industry.

Strategic step taken by Jepara Department of Tourism is putting JembulTulakan attraction in a schedule tour package that can be visited.  It becomes one of income sources of the Government of Jepara Regency, both in the sales tax and the income for local people as sellers.They provide food, parking area, and transportation. The society in general thinksSedekahBumi tradition give advantages. The first advantage is as a thanking expression for God because in the last year the villagers have been given plentiful yields. Second is as an instructional media for the leader to be a good leader for villagers. The leader can protect, create peace and prosperity for all villagers. A leader should always pay attention to people's lives in general.

Third, this tradition is to entertain the public, in the form of a puppet or tayub. Fourth, when SedekahBumi is held usually appears the sideline from the society in the form of services and snacks. Fifth, this tradition is to remember the journey of the history of the village in the form of folklore. It is also as a means to remember the struggle of queen Kalinyamat.

3. Tools and Symbols

In the SedekahBumi ceremony or known as JembulTulakan ceremony, two kinds of Jembul are served.The big Jembul called JembulLanang, while the small Jembulcalled JembulWadon. JembulLanangis decorated with part of bamboo which is cut into a layer, while JembulWadon is not. There are many kinds of traditional foods such as jadah (gemblong), tape ketan, apem,etc in JembulLanang. In the JembulWadon there are side dishes.

The totals of Jembul areadapted to the total of small village which led by small village’s head or known as Kamituwo. First, JembulKrajan is jembul for Krajan local people, house of Ki Demang as the central goverment of Kademengan. The characteristic of this Jembul is a puppet which is described as a figure of Syahidusman, a NayokoProjo (government official) of Queen Kalinyamat.

Second, JembulNgemplak is formed of tribute to Ki Leboh from the local people because of his struggle to create the small village of Ngemplak. The head of a small village head, Kedondong which is included Ngemplak area. The local people made a puppet as the identity of Ki Lebohfrom the figure of Mangun Joyo, a Nayoko of Queen Kalinyamat.

Third, JembulWinongisa tribute to Ki Buntari who had started as a small village head and built it well. The local people made a puppet as a symbol from the figure of line of brave troops who guard and secure the departure of Queen Kalinyamat from Jepara Regency to place of meditation Siti Wangi-Sonder.

Fourth, JembulDrojo is a tribute to Ki Purwofor his effort to start the small village. The local people made a puppet which was described as a figure of MbahLeseh from Kalinyamat. The procession of Jembul performanceshowed one by one with tayub dance. It is a repetition of the event when Nayoko faced Queen Kalinyamat and performed it by tayub dance.

4. The ceremonial Procession

JembulTulakan ceremony begins by washing the feet of the village chief using kembangsetaman (Clusters of Flowers). This activity is done by village councilor as a symbol of Queen Kalinyamat. Nowadays, this ceremony is held in purpose to ask for the peaceful life, safe from the disaster, and any difficulties among the villagers. Besides, it also remained the officers to trust in all actions and stride, obedient with religious order, do not violet Government ban, and applying the principle of honesty and fairness in the lead of Tulakan villagers.

After finishing the ritual of washing the feet of the village chief, the next step is doingselamatan (ritual meal) as a symbol to God for asking safety and the next resources will overflow so Tulakan villager life prosperous, enough for sandang (clothing), pangan (food) and papan (house).

The process of circling Jembul in three times is the main process of JembulTulakan. This process done by the village chiefand it followed by ledek or tayub’s dancers and also the village councilor. The procession is conducted to remain the atmosphere when Queen Kalinyamatchecked the servants who met her for giving hulubekti.Nowadays, this atmosphere defined as a reminder for the leaders of the Tulakan village to give attention to the village councilor when they do their duty. The monitoring will create safety and comfort in village.

Besides monitoring their servants, the village chief should pay attention to the society by knowing them well from small villages to others. This policy will create safe condition in the village. The leader can act mengayomi and nganyemiwhich means that the leader can protect and create harmony of the village.

After the core of JembulTulakan ceremony, the closing is done by Resikan. Resikan is cleaning the place that had been used to held ceremony. Tulakan villagers do this activity together with the other villagers. It is mean as an action to extrude diseases and crimes from Tulakan village.

A week after SedekahBumiTulakan, Pejing small village also held the same ceremony called SedekahBumiPejing. When SedekahBumiof Tulakan was held, MbahCabuk as a small village’s chief got sick. It made him did not come to the ceremony.

Seeing the pain of MbahCambuk, his children and the villagers want to hold their own SedekahBumi ceremony after MbahCambuk heals. Their wished came true, Kademangan allowed the villages to hold their own SedekahBumi ceremony with the term.

After a week MbahCambukheals, people heldSedekahBumiPejing. Pejing’s people are allowed doing their own SedekahBumibecause of Ki Brata. Ki Bratais known as a wise leader. To keep the harmony among Kademangan villagers, Pejing villagers should obey some requirements proposed by Ki Barata. The first requirement was Pejing villagers should attend SedekahBumi in Tulakan. Second was the time of SedekahBumiPejing ceremonywas not allowedin the same time ofSedekahBumiTulakan ceremony. As for the division time is, SedekahBumiTulakan held on MondayPahing then SedekahBumiPejing held a week later, Monday wage. Another requirement is there is no jembul (ancak from rambutjembul from layers bamboo’s cut) in SedekahBumiPejing. It only allowed a Tayub dance. MbahCambuk had approved the requirements then he returned to Pejing to do SedekahBumiPejing.

JembulTulakan tradition held every Apitmonth (Dzulhijah) precisely on Monday after the ceremony on Jumat wage night in Sonder village. It considered with the story of Queen Kalinyamatwho arrived to meditatein Sonder village on Jumat Wage night. Then the ceremony held on Monday Pahing, it considered with a story ofNayokoProjo or state officials’ met Queen Kalinyamat by bringing HuluBektiglondongpangareng-areng (as a tribute by carrying the needs and equipment of the Queen).

The symbolism of the four Jembul (JembulKrajan, JembulNgemplak, JembulWinong, JembulDrojo)adapted to the total of small villages in that time. The ceremonial process describes the worship of Jembul-jembul by Ledek (woman Tayub dancers). It means that in the past when NayokoProjo met the Queen they have a tribute from maids. Dance Tayub itself as a tribute for NayokoProjo which established with Jembul-jembul.

 

 

 

Memeden Gadu

  • Saturday, 28 January 2017 11:54
  • Written by

 

Pelaksanaan : musim tanam (biasanya di musim Rendeng atau musim penghujan). Setelah panen akan langsung lanjut ke tanam padi kedua, sehingga total ada 2 x musim tanam. Beberapa petani setempat yang berada di dekat sumber air biasanya menamam padi kembali di musim tanam ketiga, yaitu di musim kemarau. Musim tanam di bulan kemarau ini disebut GADU.

Lokasi : di desa Kepuk Kecamatan Bangsri Kabupaten Jepara.

Festival Memeden Gadu atau dalam bahasa Indonesia Festival Hantu Sawah adalah tradisi mengarak Memeden Sawah ( di sini disebut memeden gadu) keliling desa dengan harapan desa terbebas dari hama perusak tanaman serta masyarakat diingatkan adanya tradisi tempo doeloe.

Istilah memedi gadu muncul karena memedi sawah ini muncul di luar musin tanam padi (yang disebut gadu). Karena musim tanam tidak bersamaan, maka pemilik  sawah membuat memedi sawah gadu yang disingkat memedu. Dari sinilah muncul istilah memedi gadu atau memeden gadu. Festival Memeden Gadu merupakan acara sedekah bumi warga, sebagai ungkapan rasa syukur pada apa yang telah diberikan bumi pada para petani. Festival Memeden Gadu ini bukan hanya sebagai pegingat tradisi masa lalu tapi juga nostalgia lomba tradisi tempo dulu. Hal ini dilatarbelakangi karena sudah banyak jenis dolanan anak jaman dulu yang sudah banyak menghilang. Anak jaman sekarang sudah tidak banyak mengenal dolanan-dolanan lawas yang pernah  dimainkan kala kecil dulu seperti gobag sodor, setinan, egrang, dakonan, dan lain sebagainya.

 Puncak acara Festival Memeden Gadu adalah Kirab Memedi Sawah pada pukul 3 sore. Rute kirab adalah di jalan perkampungan setempat. Ada yang mengusung-mengarak memedi sawah, banyak pula peserta yang mengubah dirinya menyerupai memedi sawah dengan memanfaatkan jerami. Seperti biasa, setiap kirab atau karnaval, selalu ada peserta yang mengenalkan seni Barong dan Kuda Lumping. 2 kesenian ini seperti wajib ada sejak dulu. Barongan adalah sosok yang palng dicari, ditunggu, dan ditakuti para penonton kirab.

 

 

MEMEDEN GADU

Memeden Gadu or Sacrecrow festival is held during planting season (usually in Wet season or Rainy season). After the first harvest of the year, the second rice planting will continue, so there are two planting seasons in a year. Some local farmers whose rice fields are close to water sources usually have three planting seasons, two plantings during wet season and one  in  the dry season.  Plating season during the dry season is calledGadu.

Location: Kepuk village, Bangsrisubdistrict of Jepara.

MemedenGaduFestival or in Indonesian is Festival HantuSawah, a scarecrow festival, is a tradition of paradingscarecrows (people call MemedenGadu) around the village in the hope  that the village will befree from destructive pests. It is also a moments when people are being reminded of past traditions.

The term MemediGadu exists because scarecrows are made during Gadu rice-planting season, a rice planting season outside the normal two planting seasons in wet season, thus called Gadu. Because the rice planting does not coincide with other rice planting periods, then, the rice-fields owners make memedisawahgadu(Gadu scarecrow ), and the term is shortened into Memedu. So, that’s where the term of memedigaduor memedengaducomes from.MemedenGadu Festival is an event of SedekahBumi, an expression of gratitude  fora successful harvest. MemedenGaduFestival is not only  a reminder of the old traditions, but also a nostalgia for competitions and games the old tradition. This is also motivated by the idea of reviving many types of children’s games that has lost and  disappeared. Nowadays, children do not know anytraditional games once played during childhood, such as GobagSodor, Setinan, Egrang(stilts), dakonan, etc.

 

PILIH BAHASA

English French German Indonesian Italian Portuguese Russian Spanish